Reuni Burung Pipit



Engkau terpampang lagi di mataku, persis saat senja bertengger di pucuk-pucuk Enau.

angin sawah terbedak ranum, di pipimu. Sendu.


apa singgah ini cuma sekadar reuni-masam atas waktu yang pernah kita tugal di atas dangau-bambu ini?


lantas, kemana saja jejakmu dulu kau sembunyikan saat rok remajamu itu berubah wujud jadi kebaya?


jemari waktu ternyata telah tuntas mendandani tubuh-mungilmu  se kerlap-kerlip tao toba,

hingga orang-orangan sawah itu pun turut kelimpungan ketika bibirmu rekah merah melebihi  bianglala

yang berkubang di atas padi-padi yang mulai kemuning


lihat, dangau bertiang tujuh itu, rumbianya telah ku ganti,

juga tujuh kali.


kini kau ziarahi juga teras kampung berbentuk dusun ini, dan kau temukan

langgit-langit sawah pun masih tetap diricuhi cericit burung pipit yang kini telah beranak cucu

tujuh kali, dalam abu jerami


kesinilah,  serahkan rambutmu ke pangkuan ku, dan tidurlah bersama jemariku:

sampai kedua-limpa-batu-kita hancur berkeping-keping, sambil kau ceritakan lagi

kemana ikat-rambut-akar-pegagan yang dulu rajin terkepang setiap kita usai mandi-mandi sungai?


Onanrunggu, topi tao 2004


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ritual Obat

Fenomena Dana Desa dan Momok Kemarau