Postingan

Menampilkan postingan dengan label sajak Rindu

Metamorfosa Langit

Metamorfosa Langit Tiada jerit di langit tiada. Di rahim begitu hening, tanpa kabut, tanpa badai atau gigil. Tanpa air mata. Sehanya cinta, damai dan gemericik ketuban sehangat dekap malaikat dan nyanyian bidadari yang menggema di ari-ari. Tiada sakit di langit. Tak pun. Sebelum pintu-pintu rahim terluka. Sebelum para bidadari mengoyak-ngoyak bajunya. Sebelum para lelaki cuma bisa termangu menonton para orok menuruni singgasana yang hanya berbungkus darah. Tiada air mata, dan duka sebelum mata terbuka. Sebelum tangisan pecah. Tiada terik di langit. Sebelum para bidadari bangkit dari luka-luka rahimnya Sebelum para bidadari dan para lelaki beranjak menyalakan waktu Menyalakan terik, menyulut purnama menggerayangi siang, dan segala malam Mengajar para bayi mengganti popok sendiri Melatih para bocah menukangi mainan sendiri, Menyuruh para anak remaja menyuci baju sendiri Memberangkatkan para muda-mudi menjelajahi dunia sendiri, mencari langitnya sendiri, Dan lalu memanggil mereka kembali,...

Rindu Offline

Rindu Offline Yang berdiri di pintu sunyi, cemas mengetok-ngetok, menggedor-gedor waktu yang membatu. Para biarawati cekikikan dari sudut bulan sabit. Pintu sunyi tak teramuk, tak hanya tentang usil nyamuk atau siksa batuk-rindu yang mulai berdarah yang hampir bernanah, nunggu kunang-kunang berpecahan entah kapan? Tiada yang kasihan pada patung yang saban malam diguyur sepi, walau menggigil pun itu, walau selalu ngigau, atau sampai guling-guling merengeki  bidadari. Sebab rindu telah lama terjual. Cukup mahal, tergadai di seberang samudera, berondok dibalik senja yang selalu jadi pihak ketiga Biar. Terserahlah pintu-pintu itu terus katub. Sampai berlumut sampai entah maksudnya mau ngalahkan para petapa? Tak apa.   Mari kita berperang. Sekenyang mungkin. Saling mengintip, dan saling mengintai di layar smartphone ini, seabadi luka. yang berkecambah di dalam paru. Aku. Dan engkau! Dermaga maya. Samosir. Agustus '20